31 Des 2008

kentang busuk


Suatu ketika, ada seseorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kentang plastik bening ke sekolahnya. Ia lalu meminta setiap anak untuk membawa beberapa butir kentang di dalamnya. Setiap anak diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang akhirnya memiliki kantong yang ringan, walau banyak juga yang memiliki kantong plastic kelebihan beban. Mereka diminta untuk membawa kantong bening berisi kentang itu siang dan malam. Kemana saja, kantong itu harus mereka bawa, selama seminggu penuh. Kantong itu,terus berada di sisi mereka kala tidur. Diletakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan. Lama- kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hamper semua anak mengeluh dengan pekerjaan itu. Sampai akhirnya waktu seminggu itu pun usai.

Diantara semua anak itu agaknya banyak yang memilih untuk membuang kentang-kentang busuk itu daripada menyimpanya terus-menerus.

Membawa beban sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa beban kemana saja kita melangkah. Ada harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan. Dan dendam yang kita genggam terus-menerus. Memaafkan mungkin adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, pemberian itu adalah hadiah juga bagi kita sendiri : hadiah untuk sebuah kebebasan dari rasa tertekan,rasa dendam, rasa amarah, dan kekotoran hati.

1 komentar:

Arief Adi NUgroho mengatakan...

nice artikel!
keep writing ukhti..